Dosen Prodi Profesi Ners Upertis Lakukan Sosialisasi Ibu Pasca Abortus Agar Siap Hamil Kembali

Kesehatan ibu merupakan salah satu elemen penting dalam agenda pembangunan negara dan merupakan salah satu tujuan dari Suistanable Development Goals (SDGs) dengan target mengurangi angka kematian ibu di tahun 2030. Morbiditas maternal sangat berat didefinisikan sebagai seorang ibu yang hampir mati tapi selamat dari kompilkasi yang terjadi selama kehamilan, melahirkan atau dalam 42 hari setelah terminasi kehamilan.

Sedangkan morbiditas maternal berat mengacu pada kondisi yang berpotensi mengancam nyawa selama kehamilan, melahirkan atau setelah penghentian kehamilan. Kematian Ibu dapat disebabkan oleh perdarahan, hipertensi pada kehamilan, infeksi, persalinan macet atau lama, komplikasi abortus dan pembekuan darah. Melihat hal tersebut, dosen Prodi Profesi Ners Upertis yang diketuai oleh Ns. Yessi Andriani, M.Kep., Sp.Kep.Mat melakukan sosialisasi di Jorong Sungai Sariak Kenagarian Koto Tinggi, Kecamatan Baso.

Ia mengatakan, perdarahan merupakan komplikasi kehamilan yang menjadi penyebab langsung kematian maternal. Perdarahan di masa kehamilan dapat terjadi karena banyak hal salah satunya akibat dari abortus. Abortus spontan adalah penghentian kehamilan sebelum janin mencapai viabilitas sebelum usia kehamilan 20-22 minggu dengan berat kurang dari 500 gram yang disebakan oleh faktor ilmiah.

"Abortus merupakan masalah kesehatan global, sekitar satu dari empat wanita akan mengalami keguguran selama masa hidup mereka, diperkirakan 10% sampai 20 % dari seluruh kehamilan berakhir dengan abortus," katanya, Jumat (12/2/2021).
 
Abortus spontan yang tidak dapat dipertahankan merupakan masa yang paling menyedihkan bagi Ibu serta pasangan yang dapat mempengaruhi kondisi fisik dan psikologisnya. Sebanyak 15 % kejadian abortus akan terjadi lagi di kehamilan berikutnya. Berdasarkan hasil wawancara kepada 5 dari 10 ibu pasca abortus mereka menyatakan ingin hamil kembali tapi takut dan cemas jika terjadi lagi di kehamilan berikutnya.

"Dan mereka mengatakan tidak mendapatkan informasi yang jelas tentang persiapan untuk kehamilan kembali. Kurangnya informasi tentang perawatan kehamilan berikutnya berkontribusi terhadap kesiapan Ibu untuk hamil kembali," lanjutnya.

Kecemasan dan ketakutan yang mendalam akan terjadi kembali sehingga banyak Ibu yang membatasi aktifitas serta tindakan yang seharusnya boleh mereka lakukan yang akan mempengaruhi kondisi kehamilan mereka yang berakibat kejadian abortus dapat terulang kembali. Sehingga resiko pendarahan sangat tinggi mereka alami. Dampak psikologis yang ditimbulkan ibu hamil riwayat abortus sangat penting untuk ditangani karena dapat menciptakan konflik dengan persepsi mereka tentang kehamilan dan kesiapan untuk hamil kembali.

"Edukasi tetang apa itu abortus, penyebab, tanda dan gejala serta bagaimana perawatan kehamilan yang sehat sangat penting diberikan oleh perawat agar Ibu siap menjalani kehamilan berikutnya. Perawatan yang diberikan selama ini pada Ibu pasca abortus tidak optimal dilakukan. Pada umumnya informasi yang diberikan tidak komprehensif bahkan lebih kepada tindakan medis saja begitu pun saat ibu pulang tidak dijelaskan secara detail informasi tentang perawatan kehamilan yang sehat serta manajeman stres atau cemas bila Ibu siap untuk hamil kembali," ungkapnya.

Berdasarkan latar belakang itu maka dosen Prodi Profesi Nera Upertis melakukan pengabdian masyarakat dengan topik Paket Penkes “SIAGA” pada Ibu Pasca Abortus agar siap untuk hamil kembali di Jorong Sungai Sariak, kenagarian Koto Tinggi, Kecamatan Baso. Tujuan penyuluhan pada Ibu pasca abortus yang dilakukan adalah untuk meningkatkan pengetahuan dan kesiapan ibu pasca Abortus di Jorong Sungai Sariak untuk hamil kembali agar resiko pendarahan atau kematian matenal di masa kehamilan dapat dihindari.
 
"Kegiatan ini dilakukan dengan metode ceramah, demontrasi, diskusi dan tanya jawab. Peserta berjumlah 18 orang yang terdiri dari ibu-ibu di Jorong Sungai Sariak beserta keluarga. Sebelum melakukan penyuluhan kepada ibu-ibu tersebut, tim pengabmas melakukan pretest untuk menilai pengetahuan ibu seputar Abortus dan kesiapan untuk hamil kembali yang dinilai dari pengetahuan tentang abortus," jelasnya.

Selain itu, tim juga memberikan sosialisasi mengenai kiat-kiat perawatan kehamilan yang sehat, manajemen stres dan cemas, didapatakan bahwa rata-rata 80% ibu-ibu tidak mengetahui defenisi, penyebab, tanda dan gejala serta perawatan kehamilan yang sehat pasca abortus. Kemudian dilakukan penyuluhan dan pengenalan Paket PenKes “SIAGA” untuk kesiapan ibu hamil kembali dan terlihat tingginya antusias ibu-ibu mendengarkan materi yang disampaikan.

Kemudian juga ada cara-cara manajemen stres yang diperagakan, pada sesi tanya jawab banyak pertanyaan yang diajukan oleh ibu-ibu tentang tanda–tanda abortus, bagaimana penanganannya, apa pantangan makanan saat hamil agar tidak terjadi abortus. Dan masih banyak hal-hal yang belum mereka ketahui serta persepsi yang salah selama ini tentang perawatan kehamilan yang sehat," paparnya.

Pada sesi terakhir tim melakukan kembali posttest dengan pertanyaan yang sama dan didapatkan rata-rata 96 % ibu-ibu sudah mengetahui defenisi, penyebab, tanda gejala dan pelaksanaan perawatan kehamilan yang sehat. Hasil ini menunjukkan adanya peningkatan pengetahun ibu tentang abortus serta kesiapan untuk hamil kembali setelah diberikan paket PenKes “SIAGA”.(*)


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Open chat